Jurnalis Eddy Iriawan Terbitkan Disertasi Mengenai Rekonstruksi Citra Polri

Dalam era digital yang serba cepat ini, perubahan pola komunikasi masyarakat menjadi tantangan tersendiri bagi institusi, termasuk Polri. Dengan hadirnya media sosial yang memfasilitasi arus informasi yang tak terduga, penting bagi Polri untuk mengadaptasi strategi komunikasi mereka. Buku yang ditulis oleh Eddy Iriawan ini menawarkan pendekatan baru dalam pengelolaan komunikasi yang dapat membantu Polri dalam menghadapi dinamika tersebut. Melalui disertasi yang diterbitkan ini, Eddy tidak hanya menyajikan hasil penelitiannya, tetapi juga memberikan solusi praktis untuk memperbaiki citra Polri di mata publik.
Pentingnya Rekonstruksi Citra Polri
Eddy Iriawan, seorang jurnalis, mengungkapkan bahwa bukunya ini merupakan hasil dari disertasinya di Program Studi Doktor Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Sumatera Utara (USU). Ia berkomitmen untuk menjadikan gagasan-gagasan dari penelitiannya lebih dari sekadar karya akademik. Dengan tujuan agar hasil penelitiannya dapat diakses oleh masyarakat luas, Eddy memutuskan untuk menerbitkan bukunya.
Dalam penelitiannya, Eddy menganalisis bagaimana Polri dapat menghadapi perubahan dalam pola komunikasi masyarakat, terutama di tengah banjir informasi yang disebabkan oleh media sosial. Menurutnya, perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara publik berinteraksi dengan institusi kepolisian. Informasi, kritik, dan pengalaman masyarakat dapat menyebar dengan cepat, berpengaruh langsung terhadap citra Polri.
Memahami Dinamika Komunikasi Publik
Dalam konteks ini, buku terbitan CV Angkasa Media Literasi ini tidak hanya membahas cara Polri menyampaikan informasi, tetapi juga merinci bagaimana institusi harus merespons isu-isu yang muncul, mengelola tantangan, dan membangun komunikasi yang efektif dengan masyarakat. Eddy mengemukakan bahwa model PRISM menjadi landasan utama dalam bukunya. Model ini dirancang sebagai pendekatan manajemen komunikasi untuk menghadapi tekanan informasi dan sekaligus memperbaiki citra institusi.
PRISM merupakan akronim dari lima aspek penting: Participation (Partisipasi), Responsiveness (Responsif), Integrity (Integritas), Synergy (Sinergi), dan Monitoring (Pemantauan). Kelima elemen ini saling terkait dan memberikan kerangka kerja untuk pengelolaan komunikasi yang efektif, yang menempatkan partisipasi publik dan respon yang cepat sebagai prioritas utama.
Pengalaman Masyarakat dan Citra Polri
Dalam hasil penelitiannya, Eddy menemukan bahwa pengalaman buruk masyarakat ketika berurusan dengan polisi sangat memengaruhi citra Polri. Ia mencatat bahwa sekitar 66,2 persen citra negatif terhadap Polri berakar dari pengalaman pribadi yang tidak menyenangkan, seperti kurangnya respons terhadap pengaduan yang diajukan. Fenomena ini menunjukkan bahwa komunikasi yang tidak efektif dapat berkontribusi pada persepsi negatif masyarakat terhadap institusi kepolisian.
Kompleksitas tantangan komunikasi semakin meningkat ketika kasus yang melibatkan oknum polisi mendapat perhatian besar di media. Eddy mencontohkan kasus Ferdy Sambo dan Teddy Minahasa, di mana beredarnya informasi yang masif dapat membuat publik menggeneralisasi perilaku individu sebagai masalah institusi secara keseluruhan. Masyarakat cenderung mengaitkan tindakan oknum dengan reputasi Polri, yang semakin memperburuk citra mereka.
Strategi Penerapan Model PRISM
Buku ini juga memberikan sejumlah langkah praktis dalam menerapkan model PRISM. Beberapa langkah tersebut meliputi:
- Mengenali isu sejak awal dan menangkap sinyal dari masyarakat.
- Memantau aktivitas tagar di media sosial untuk memahami opini publik.
- Mengelompokkan isu berdasarkan konteks dan narasi yang sedang berkembang.
- Membangun kolaborasi dengan lembaga lain yang relevan.
- Membuka ruang dialog dengan masyarakat untuk meningkatkan transparansi.
Langkah-langkah ini tidak hanya fokus pada pengelolaan narasi di media, tetapi juga pada respons yang berbasis data dan kolaborasi yang efektif. Eddy menekankan bahwa Polri harus mampu memberikan respons yang terkoordinasi dari tingkat Mabes Polri hingga ke Polsek. Keseragaman dalam respons akan sangat menentukan keberhasilan dalam membangun komunikasi yang positif dan merestrukturisasi citra Polri.
Peran Humas dalam Komunikasi Polri
Di dalam buku ini, Eddy juga menyoroti pentingnya peran jajaran humas dalam pelaksanaan komunikasi institusi. Respons terhadap isu publik harus memiliki pola yang terintegrasi, mulai dari tingkat Mabes Polri hingga ke Polda dan Polsek. Humas diharapkan mampu menjadi ujung tombak dalam membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat.
“Yang terpenting adalah adanya keseragaman gerak dalam menerapkan strategi ini,” jelas Eddy. “Keberhasilan dalam membangun komunikasi yang positif untuk merestrukturisasi citra Polri sangat bergantung pada kolaborasi yang baik antar unit.”
Komunikasi yang Adaptif dan Transparan
Promotor Eddy, Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain, M.Si, juga memberikan dukungannya terhadap penerbitan buku ini. Ia berharap hasil penelitian Eddy dapat menjadi referensi yang bermanfaat tidak hanya untuk kalangan akademik, tetapi juga untuk masyarakat luas. Iskandar menekankan pentingnya komunikasi yang adaptif, transparan, dan responsif dalam menghadapi ruang publik yang semakin terbuka.
Buku ini memuat sambutan tertulis dari Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo yang ditulis saat masih menjabat sebagai Kapolri. Dalam sambutannya, Sigit menyoroti kepercayaan publik sebagai modal utama bagi Polri, serta menekankan bahwa komunikasi institusi harus dikelola dengan pendekatan yang profesional, adaptif, dan humanis. Ia juga mengapresiasi model PRISM sebagai kerangka yang tepat untuk menghadapi perubahan perilaku publik dan tuntutan akan informasi yang terbuka dan akurat.
Prestasi Akademis dan Harapan untuk Masa Depan
Eddy Iriawan resmi meraih gelar Doktor Ilmu Komunikasi setelah mempertahankan disertasinya di sidang promosi doktor di USU pada 8 Juni 2026, dan dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude. Prestasi ini menandai langkah signifikan dalam kariernya sebagai seorang jurnalis dan akademisi.
Dengan menerbitkan buku ini, Eddy berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam memperbaiki citra Polri. Ia percaya bahwa dengan mengedepankan komunikasi yang efektif dan responsif, Polri dapat membangun hubungan yang lebih baik dengan masyarakat dan mengatasi tantangan yang dihadapi di era digital saat ini.
Secara keseluruhan, buku ini tidak hanya berfungsi sebagai panduan bagi Polri dalam beradaptasi dengan perubahan yang ada, tetapi juga sebagai sumber inspirasi bagi para pemangku kepentingan lainnya dalam meningkatkan kualitas komunikasi publik. Dengan pendekatan yang tepat, diharapkan citra positif Polri dapat direkonstruksi dan diperkuat di mata masyarakat.




