
D.O.S.A, band skramz yang berasal dari Sragen, kembali memukau penggemarnya dengan peluncuran single terbaru berjudul “RUH”. Lagu ini menawarkan perpaduan yang harmonis antara intensitas musik skramz dan refleksi mendalam mengenai asal-usul serta perjalanan spiritual manusia. Dengan tema yang kuat dan berani, D.O.S.A mengajak pendengarnya untuk merenung dan menggali lebih dalam tentang eksistensi kita di dunia ini.
Asal Usul D.O.S.A dan Musik Skramz
D.O.S.A dibentuk pada tahun 2014 dan saat ini terdiri dari enam personel, yaitu Rendra Prihananto (vokal), Aditya Tri Wibowo (gitar), Rizal Bahy Ayusman (gitar), Yonanda Olga Aji Prasetya (bass), Alfaomega Bani Sabathino (synthesizer), dan Rayhan Zidane (drum). Sejak awal berdirinya, D.O.S.A dikenal dengan pendekatan unik dalam genre post-rock skramz, mengusung tema-tema reflektif yang menyentuh sejarah dan kecemasan dalam jiwa manusia. Rencana perilisan single “RUH” dijadwalkan pada 14 Maret 2026.
“Dengan single ini, kami mengawali dengan penggalan ayat ‘Alastu bi Rabbikum’ sebagai pengingat bahwa setiap manusia diciptakan dari ruh yang Tuhan titipkan. Melalui aransemen post-rock skramz, kami berusaha mengajak pendengar untuk merenungkan kembali identitas diri, asal-usul kita, dan tujuan akhir kehidupan,” ungkap Rendra. D.O.S.A berharap, lagu ini menjadi ajakan bagi semua untuk sejenak berhenti dari kesibukan dunia dan berdamai dengan diri sendiri, serta menyadari bahwa manusia berasal dari tanah yang lembut, yang hanya bisa dipertahankan dengan rahmat Tuhan.
Musikalitas dan Makna dalam “RUH”
Secara musikal, “RUH” dibangun di atas dasar spiritualitas yang kuat, dimulai dengan pembukaan ayat “Alastu bi Rabbikum” dari Surah Al-A’raf ayat 172. Ini adalah pengingat akan kesaksian ruh manusia kepada Tuhan sebelum kelahiran. Ayat tersebut menjadi titik awal dari narasi yang menggambarkan janji primordial manusia kepada Sang Pencipta. Melalui komposisi yang dinamis, lagu ini bergerak dari suasana tenang menuju ledakan emosional yang menggambarkan perjalanan batin manusia, mulai dari refleksi hingga doa. Tema ini menyentuh pada pertanyaan eksistensial mengenai asal-usul manusia, dari tanah menuju cahaya.
‘Ruh’ menjadi panggilan bagi manusia yang sering melupakan kehadiran Tuhan. Pada akhirnya, kita semua akan kembali kepada-Nya, hanya sebagai ruh yang tidak membawa harta atau busana, melainkan iman, cinta, dan ketulusan. “Dengan ‘Ruh’, kami ingin menekankan bahwa meskipun seseorang memiliki kesalahan, pintu untuk kembali kepada Tuhan selalu terbuka, dengan iman, harapan, dan kejujuran,” jelas Rendra.
Konflik Spiritual dan Falsafah Jawa
Konflik antara ruh dan raga dalam pencarian hidayah serta kedamaian spiritual juga menjadi tema penting dalam lagu ini. Gagasan ini sejalan dengan falsafah Jawa tentang sangkan paraning dumadi, yang menekankan bahwa manusia pada akhirnya akan kembali kepada Tuhan sebagai ruh dengan membawa iman, cinta, dan ketulusan dalam hati. D.O.S.A juga menghadirkan bayang-bayang sejarah kelam, seperti tragedi 1965, sebagai cermin bahwa keadilan sejati pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta.
“Seperti tema lagu sebelumnya, peristiwa 1965 memberikan pengaruh yang mendalam pada atmosfer dan semangat di balik penciptaan single ‘Ruh’. Namun, kami ingin mengubah sudut pandang tentang tragedi itu, bukan hanya sebagai kisah kematian atau kehilangan, tetapi juga tentang generasi penerus yang harus melanjutkan hidup dengan melibatkan Tuhan dalam setiap langkah mereka. Kami percaya bahwa setiap luka dan ketidakadilan pada akhirnya akan mendapatkan keadilan, mungkin tidak di dunia ini, tetapi pasti akan terbalas di akhirat,” tambah Rendra.
Proses Pembuatan “RUH” yang Penuh Tantangan
Pembuatan single “RUH” berlangsung selama kurang lebih dua bulan, mencakup penulisan gitar, sesi latihan, hingga proses rekaman. Keberadaan bulan Ramadhan pada saat itu turut memberikan suasana kontemplatif yang mendalam pada lagu ini. Selama proses tersebut, D.O.S.A menghadapi berbagai tantangan, terutama pada struktur ritme yang cukup kompleks serta kesulitan dalam menyatukan jadwal para personel yang masing-masing memiliki kesibukan pribadi.
“Kami mengalami beberapa kendala dalam ritme lagu, terutama ketika harus beralih dari ketukan 4/4 ke pola yang lebih tidak lazim seperti 4/6. Selain itu, mencari waktu untuk berkumpul juga menjadi tantangan tersendiri, mengingat masing-masing personel memiliki kesibukan. Namun, setiap pertemuan yang singkat kami nikmati sebagai bagian dari proses kreatif untuk menghasilkan karya yang bisa dinikmati oleh pendengar kami yang kami sebut sebagai jamaah Al-Dosaiyah,” ungkap Rendra.
Energi Kreatif yang Berkelanjutan
Walaupun terhalang oleh berbagai kendala, energi kreatif D.O.S.A tetap terjaga dan berhasil melahirkan sebuah karya yang akan mereka persembahkan kepada para penggemar setia. Setelah perilisan “RUH”, band ini merencanakan berbagai kegiatan lanjutan, termasuk sesi berbagi, penampilan langsung, serta kemungkinan produksi video klip. Mereka juga membuka kesempatan untuk berkolaborasi dengan berbagai ruang kreatif, termasuk kedai kopi dan komunitas lainnya, guna memperluas jangkauan pesan dari lagu ini.
“Setelah ini, kami mungkin akan mengadakan sesi berbagi untuk merayakan rilisnya single ‘Ruh’, penampilan langsung, serta kemungkinan pembuatan video klip. Kami juga ingin menjalin kerja sama dengan coffee shop dan berbagai pihak lainnya untuk menciptakan momen yang lebih dekat dengan pendengar kami,” tutup Rendra.
Rilis dan Akses ke “RUH”
Single “RUH” dari D.O.S.A akan tersedia untuk didengarkan mulai 14 Maret 2026 di berbagai platform streaming digital. Pendengar juga dapat mendukung perilisan ini secara langsung melalui Haum Records di Bandcamp. Lagu ini bukan sekadar hiburan, melainkan juga sebagai ruang untuk merenung mengenai asal-usul manusia dan perjalanan batin kita menuju Tuhan. D.O.S.A mengajak semua pendengar untuk menyimak “RUH” sebagai bagian dari perjalanan spiritual yang mendalam.



